Minggu, 24 Oktober 2010

HWK Kukar Gelar Halal Bihalal









Keluarga besar Himpunan Wanita Karya (HWK) Kabupaten Kutai Kartanegara, Selasa (28/9) lalu menggelar acara halal bihalal yang dilangsungkan di Hotel Grand Elty Tenggarong.

Acara yang dihadiri para pengurus HWK kecamatan se-Kukar juga turut dihadiri Bupati Rita Widyasari dan Wakil Bupati HM Ghufron Yusuf.

Selain menjadi momen penting untuk merekatkan tali silaturahmi, dalam acara tersebut juga dijadikan wahana untuk menyampaikan beberapa hal penting kepada Bupati Kutai Kartanegara, utamanya komitmen dalam melakukan upaya pemberdayaan perempuan di Kukar untuk turut mendukung grand program Gerbang Raja.

“Kami berharap agar anggaran 2 persen untuk kaum perempuan bisa diwujudkan dengan harapan kaum perempuan bisa berkarya dan berdaya guna dalam mengisi pembangunan diberbagai sektor,” tandas Ketua HWK Kukar Hj Neny Maharani SH.

Neny Mahanari juga menambahkan acara halal bi halal bertujuan meningkatkan tali silahturahmi antar pengurus baik tingkat kabupaten maupun kecamatan bisa tetap terjalin dengan baik.

”Serta dalam menselaraskan program kerja yang nantinya dapat memberikan andil besar dalam partisipasinya mendukung pembangunan didaerah, baik dalam peningkatan SDM melalui penyuluhan dan pelatihan kalangan wanita,” tegas Neny Maharani.awi

Pemkab Kukar Jalin Kerjasama dengan BPKP Kaltim

Pemkab Kutai Kartanegara (Kukar) dan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim), belum lama ini di Ruang Serba Guna Kantor Bupati Kukar, Tenggarong. Melakukan penandatanganan perjanjian kerjasama (MoU) tentang manajemen pengelolaan keuangan daerah berbasis kinerja. Yang dihadiri langsung oleh Kepala Perwakilan BPKP Kaltim, Drs H Bambang Setiawan MM dengan didampingi Kepala Bidang Akuntabilitas Pemerintah Daerah (APD), Michael Rolandi SE AK. 
Kegiatan yang diawali dengan pembacaan doa dan dilanjutkan penandatanganan berita acara antara Pemkab Kukar dan BPKP Kaltim.
Disaksikan oleh kedua Wakil Ketua DPRD Kukar H Abdul Rahman dan Marwan, dan seluruh Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dilingkungan Pemkab Kukar.
Bupati Kukar Rita Widyasari, mengatakan perkembangan manajemen dan administrasi dewasa ini telah semakin maju, seiring dengan pelaksanaan otonomi daerah yang kian hari kian menuntut para aparatut pemerintahan untuk meningkatkan kualitasnya.
Dalam rangka mewujudkan pemerintah yang baik dan bersih, pengembangan manajemen pengelolaan keuangan daerah berbasis kinerja untuk menunjang perkembangan otonomi daerah amat diperlukan,” ujarnya.
Oleh karenanya Kepala Daerah sebagai penyelenggara pemerintah daerah berkewajiban untuk menyelenggarakan manajemen pengelolaan keuangan daerah yang akuntabel dan transparan.
Berkenaan dengan hal tersebut, Pemkab Kukar bersama Perwakilan BPKP Kaltim sebagai lembaga pengawasan di bidang keuangan dan pembangunan telah menjalin sebuah kerjasama yang tertuang dalam Memorandum of Understanding (MoU) sejak 2007 lalu,” ungkap Rita Widyasari.
Lebih lanjut Rita, mengatakan yang terjadi dewasa ini, dengan semakin berkembangnya peraturan perundangan tentang pengelolaan keuangan daerah, semakin menuntut aparatur pemerintah untuk lebih meningkatkan kinerjanya.
Dengan berbagai ketentuan yang mengatur tentang administrasi keuangan daerah, mengharuskan para pengelola keuangan daerah untuk lebih teliti dalam pengadministrasian keuangan daerah sebagai bentuk pertanggungjawaban pelaksanaan keuangan darah.
Hal tersebut merupakan tugas yang tidak mudah , mengingat hasil akhirnya nanti merupakan cerminan keberhasilan sebuah pemerintahan dalam mengelola keuangan daerah,” pungkas Bupati Wanita pertama di Kaltim ini.
Bupati Rita juga menembahkan tidak hanya dalam hal pengadministrasian keuangan daerah, tetapi dalam hal pemamfaatan SDM dan fasilitas yang tersedia guna kelancaran manajemen pengelolaan keuangan di Kukar, merupakan salah satu bentuk kerjasama yang telah dilaksanakan selama ini dan membawa perbaikan mendasar terkait dengan manajemen (Pengelolaan, red).
“Maka kerjasama yang telah terjalin baik selama ini antara Pemkab Kukar dengan BPKP ini kiranya dapat terus dilanjutkan, dalam rangka perbaikan dan peningkatan sistem manajemen pengelolaan keuangan daerah yang akuntabel dan transparan.
Dengan adanya kerjasama ini, diharapkan para aparat pemerintah di Kukar serta Pejabat Pengelola Keuangan daerah uga dapat mengambil ilmu pengetahuan dan memperkaya wawasan, terutama berkaitan dengan manajemen pengelola keuangandaerah,” imbuhnya.***

Gali Potensi di Tiap Desa Melalui KBUP

Bupati Kutai Kartanegara Rita Widyasari,S.Sos,MM menginginkan adanya produksi makanan khas Kutai yang bisa dibawa pulang sebagai oleh-oleh. Hal tersebut berkaitan dengan program Gerakan Pembangunan Rakyat Sejahtera (Gerbang Raja) salah satunya meningkatkan peran dan partisipasi perempuan dalam berbagai aspek kehidupan. 

"Kedepan saya menginginkan adanya produk makanan khas Kutai yang dapat dibawa pulang sebagai oleh-oleh, dan inilah salah satu peran yang dapat diambil oleh kaum perempuan dalam mensejahterakan dan meningkatkan ekonomi melalui program kelompok bersama usaha perempuan," kata Rita Widyasari di depan ibu-ibu PKK belum lama ini.

Dikatakan Rita Widyasari sambil memberikan contoh seperti di kecamatan Muara Jawa memiliki produksi ikan lunak dan begitu pun dengan potensi-potensi lainnya yang ada di masing-masing desa dapat dikembangkan.

“Sering saya katakan bahwa saya akan menyisihkan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Kukar 2 persen untuk kaum perempuan atau ibu-ibu PKK yang nantinya dapat dimanfaatkan untuk berlomba-lomba menggali potensi dimasing-masing desa melalui kelompok usaha bersama perempuan. Sehingga produk-produknya nanti dapat dikemas dan dijual baik itu berupa makanan khas Kutai, kue ilat sapi maupun oleh-oleh lainnya yang dapat meningkatkan selera,” ujar Rita Widyasari.

Tidak hanya itu Bupati Kukar ini juga sempat menanyakan kepada pemberdayaan perempuan bahwa selama ini berapa anggaran untuk perempuan, dikatakan bahwa hanya Rp 500 juta, tentunya hal ini belum cukup untuk memberdayakan berbagai usaha kelompok usaha yang ada di masyarakat. “Kedepan saya ingin peran perempuan dalam pembangunan dapat terwujud dengan melakukan perubahan-perubahan yang diharapkan bagi kita semua,” harap Rita.***

Jalin Koordinasi Lewat BlackBerry

Untuk lebih menjalin koordinasi dalam menjalankan pemerintahan di Kabupaten Kutai Kartanegara, Bupati Kukar Rita Widyasari menyarankan kepada semua Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) agar memiliki jaringan koneksi yang memadai yakni melalui handphone BlackBerry untuk saling berkoordinasi dalam rangka menjalankan roda pemerintahan dan pembangunan di Kukar.

Hal tersebut dikatakan Rita Widyasari saat memimpin Rakor bersama jajaran Pemkab Kukar  di Ruang Serba Guna Kantor bupati, Tenggarong. "Saya ingin kita terus menjalin koordinasi, dan semua kepala dinas atau instansi nantinya dapat memiliki Blackberry sebagai sarana berkomunikasi dalam rangka pelaksanaan pembangunan di Kutai Kartanegara," kata Rita Widyasari.

Tidak hanya itu lebih lanjut Rita Widyasari mengatakan dengan memiliki BlackBerry dimana dan kapan pun semuanya dapat dikoordinasikan menyangkut pembangunan di Kutai Kartanegara.

“Dengan koordinasi melalui BlackBerry akan merasakan kenyamanan dalam menyampaikan komunikasi. Kita dapat membuat satu group dalam koneksi BlackBerry yakni group Pemda Kutai Kartanegara, melalui group ini akan memudahkan kita saling berkoordinasi. Silahkan ditanyakan apa saja tentang pembangunan dan lainnya, nanti saya kasih PIN saya agar dapat berkoordinasi, dan silahkan beli sendiri dengan harga yang bervariasi,” ujarnya.

Sebagai Bupati perempuan pertama di Kutai Kartanegara yang kerap tersenyum, menyampikan komunikasi dan kerap bercanda itu, menurutnya apa yang dilakukannya itu serius.

 “Saya ingin menjadi contoh dan dicontoh bagi seluruh pegawai lainnya dalam menjalankan pemerintahan, meskipun sambil bergurau dalam menyampaikannya tapi tetap serius,”pungkasnya.***

Bupati Kukar Paparkan Keberhasilan ZBPA


>>>Dari Kongres ILERA Regional Asia ke-7
Bupati Kutai Kartanegara Rita Widyasari,S.Sos,MM mendapat kehormatan menjadi pembicara tamu dalam Kongres International Labour and Employment Relation Association (ILERA) atau Asosiasi Hubungan Pekerjaan dan Buruh Internasional yang berlangsung di Sanur, Bali, belum lama ini. 
Kongres ILERA Regional Asia ke-7 yang digelar di Grand Inna Hotel & Cottage Sanur itu dihadiri peserta kongres dari beberapa negara di Asia.
Hadir juga Presiden ILERA Professor Janice R Ballace, CEO Presiden Director PT Jamsostek Indonesia Hot Bonar Sinaga, serta beberapa pembicara lainnya yaitu Professor Anil Verma dari Toronto University Canada dan Christopher Ng dari UNI Global Unions Asia Pacific.
Topik yang dibahas pada Kongres ILERA tersebut diantaranya mengenai krisis keuangan global kaitannya dengan demokrasi industrial, kerjasama pekerja manajemen di perusahaan, green job (kerja lingkungan hijau) tentang kemajuan dan perubahan dunia kerja. Selain itu dibahas pula mengenai perkembangan manajeman SDM, penerapan kerja layak dan penerapan hubungan industrial di sektor informal.
Mengawali pidato berbahasa Inggrisnya, Rita mengatakan bahwa suatu kehormatan baginya menjadi pembicara pada kongres level Asia tersebut, khususnya dalam berbagi informasi tentang penanganan penghapusan pekerja anak di Kukar serta koitmen menjadi daerah green jobs (kerja lingkungan hijau) di masa mendatang.
Rita mengatakan bahwa penghapusan pekerja anak di Kukar merupakan realisasi dari keberhasilan program Zona Bebas Pekerja Anak (ZBPA) yang dicanangkan pada 2002 lalu.
Deklarasi ZBPA ini berangkat dari komitmen Pemkab untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia melalui pemberian kesempatan luas kepada anak usia sekolah untuk menempuh pendidikan.
Target ZPBA yang sudah dicapai adalah zero (nol) pekerja anak dibawah usia 15 tahun sampai dengan tahun 2008, dan targetkan zero pekerja anak dibawah 18 tahun sampai dengan tahun 2012.
Pemkab Kukar sendiri sejak 2004 sudah memiliki Perda yang mengatur larangan bagi pekerja anak, dan sanksi bagi orangtua yang mempekerjakan anak yaitu Perda No 9 tahun 2004.
Untuk menyukseskan ZBPA itu, Pemkab Kukar menetapkan kebijakan penunjang, diantaranya wajib belajar 12 tahun, bebas SPP mulai SD sampai SLTA dan beasiswa.
"Ketika ZBPA dicanangkan pada tahun 2002, jumlah pekerja anak tercatat 11 ribu lebih. Hingga Agustus 2010 ini, angka tersebut turun signifikan yaitu tinggal 25 anak. Saya yakin pada 2012 target zero pekeja anak di Kukar bisa terpenuhi," ujarnya disambut tepuk tangan para peserta kongres dan pembicara lainnya.
Sementara itu mengenai penyelamatan lingkungan, Rita mengatakan telah meletakkan misi pro lingkungan dalam Gerbang Raja, yakni menetapkan penyelenggaraan pembangunan berwawasan lingkungan dan pelestarian sumberdaya alam.
Berbagai program penyelamatan lingkungan telah dilakukan pemkab kukar, diantaranya penyelamatan delta mahakam melalui penanaman mangroove (bakau) sejak 2001 dan penerapan tambak pola silvo fisheries, serta penggunaan sumber energi biogas melalui kotoran ternak.
Selain itu di sektor swasta, perkebunan juga mulai bergerak memanfaatkan bahan baku tandon kelapa sawit sebagai sumber energi. Kemudian pengolahan batu bara berkalori rendah menjadi briket batu bara berkalori tinggi.
"Ketika green jobs menjadi tantangan dewasa ini, saya berkomitmen menjadikan Kukar sebagai daerah yang mencanangkan green jobs dengan target tahun 2025," kata Rita yang disambut tepuk tangan peserta Kongres ILERA.
Selanjutnya Rita berharap dukungan dari pihak Asosiasi Hubungan Industrial Internasional dan ILO dalam upaya memasyarakatkan green job menuju lingkungan kerja yang sehat aman dan nyaman.***

HWK Kukar Gelar Buka Puasa Bersama



Jajaran kepengurusan HWK (Himpunan Wanita Karya) Kabupaten Kutai Kartanegara, yang dipimpin langsung Ketua, Hj. Nenny Maharani, SH menggelar acara buka puasa bersama dengan jajaran pengurus HWK Kecamatan Tenggarong dan HWK Tenggarong Seberang, belum lama ini bertempat di Hotel Grand Elty Tenggarong. 
Dalam suasana bulan penuh berkah, kegiatan buka puasa bersama yang dilaksanakan HWK Kabupaten Kutai Kartanegara bersama jajaran pengurus HWK cabang ini bertujuan untuk menjalankan Ukhuwah Islamiyah, sekaligus mempererat tali silaturahmi antar pengurus tingkat kabupaten dan kecamatan. Bahkan dalam momentum itu, bisa menjadi ajang konsolidasi internal, guna pemantapan program kerja HWK Kabupaten Kutai Kartanegara kedepannya. Hal itu sebagaimana dikemukakan Ketua HWK Kabupaten Kutai Kartanegara, Hj. Nenny Maharani dihadapan seluruh jajaran pengurus harian HWK Kukar, HWK Tenggarong dan HWK Tenggarong Seberang.
Dalam kesempatan yang baik itu pula, dipertegas oleh Nenny Maharani tak lama lagi akan tiba hari kemenangan Idul Fitri 1431 Hijriyah. Dimana dalam hari kemenangan itu, semua umat muslim seluruh dunia akan merayakannnya, termasuk umat muslim yang ada di Kabupaten Kutai Kartanegara. Yang diantaranya juga merupakan anggota pengurus HWK Kabupaten Kutai Kartanegara. Untuk itu, tidak ada salahnya seluruh pengurus HWK menyampaikan ucapan selamat merayakan Idul Fitri, mohon maaf lahir batin.
"Kami seluruh jajaran pengurus Himpunan Wanita Karya Kabupaten Kutai Kartanegara turut menyampaikan perayaan kemenangan bagi umat muslim di seluruh Kukar. Dimana selama satu bulan penuh telah melaksanakan puasa ramadhan. Dan dalam kesempatan ini pula, kami turut menyampaikan permohonan maaf lahir dan bathin kepada masyarakat Kukar umumnya dan jajaran pengurus HWK yang ada di Kabupaten berikut yang ada di 18 Kecamatan," lanjutnya.***

Syaukani HR Ikut Salat Ied di Masjid Agung







Lebaran Idul Fitri tahun ini membawa kebahagiaan tersendiri bagi keluarga besar H Syaukani HR. Grasi atau pengampunan yang diberikan Presiden SBY terhadap Syaukani, membuat mantan Bupati Kutai Kartanegara (Kukar) dua periode ini dapat merayakan Idul Fitri bersama keluarga di Kota Raja Tenggarong.
Tepat Jum'at (10/09) lalu, Syaukani ikut melaksanakan salat Ied di Masjid Agung Sultan Sulaiman Tenggarong, yang berjarak sekitar 300 meter dari Pendopo Odah Etam, rumah jabatan Bupati Kukar yang kini ditempati putrinya, Rita Widyasari selaku Bupati Kukar 2010-2015.
Syaukani diizinkan oleh tim dokter untuk keluar mengikuti salat Ied setelah kondisi kesehatannya yang mulai stabil. Kendati demikian, Syaukani hanya bisa salat dengan duduk di atas kursi roda.
Usai melaksanakan salat Ied, Syaukani kembali ke Pendopo Odah Etam. Setelah semua keluarga berkumpul, secara bergantian istri, anak-anak hingga cucu Syaukani saling bermaaf-maafan.
Raut kebahagiaan tampak terpancar di wajah Bupati Kukar Rita Widyasari yang sempat mengaku bahwa lebaran kali ini terasa berbeda, karena ini merupakan lebaran pertamanya jadi bupati dan menyampaikan kata sambutan di masjid. Beberapa kali Rita menciumi wajah sang ayah sambil berdialog dengan Syaukani.
"Bapak dengar saya pidato tadi?" tanya Rita kepada Syaukani yang kini penglihatannya terganggu.
"Ya, hebat leh," ujar Syaukani sambil tersenyum.
Rita juga mengatakan sangat senang sekali karena ayahndanya sudah bebas. “Rasanya ada magnet besar bagi saya untuk semakin semangat memimpin daerah ini,’ungkapnya.
Saat membacakan pesan Idul Fitri di hadapan jamaah salat Ied, Rita atas nama Pemkab Kukar seluruh keluarga besar Syaukani meminta maaf kepada seluruh masyarakat Kukar.
"Kami memohon keikhlasan seluruh masyarakat untuk memaafkan semua salah dan khilaf kami," ujarnya agar momentum lebaran kali ini turut menyongsong hari depan dengan harapan baru dengan saling memaafkan.
Yang menarik perhatian para tamu Bupati Rita pada open house tersebut yaitu hadirnya Pak Kaning (panggilan H Syaukani HR) yang ikut menemui tamu.
Dengan bantun dua perawat (petugas medis), Kaning dengan kursi rodanya ditempatkan ditengah-tengah keluargannya, yaitu disebelah kirinya Hj Dayang Kartini (istri H Kaning) dan Rita Widyasari disebelah kanan mantan orang nomor wahid di Kukar itu. Seluruh keluarga besar H Kaning mulai dari anak, menantu hingga cucu-cucunya juga hadir pada Open House itu.
Usai berjabat tangan dengan Rita, para tamu diperkenankan bersalaman dengan H Kaning. Hendry, perawat H Kaning mengatakan boleh saja bersalaman namun pelan-pelan.
"Tangan bapak jangan ditarik, cukup salaman pelan-pelan saja jangan keras-keras ya," ujarnya kepada para tamu yang ingin bersalaman dengan Syaukani.
Syaukani sempat bernyanyi mengiringi group Nasyid yang memeriahkan open house itu. Lagu yang mampu diingat dan dinyanyikannya adalah "Sepohon Kayu" dengan penggalan liriknya
"Walaupun hidup seribu tahun Kalau tak sembahyang apa gunanya". Lagu lainnya yang sempat dinyanyikan H Kaning walau dengan terbata dan terdengar kurang fasih pada malam itu adalah Balada Pelaut. Hal tersebut tentu saja menjadi perhatian para tamu open house.
Sekitar satu jam menemui tamu, H Kaning sebutan akrab Syaukani kemudian dibawa kembali kekamarnya karena kondisinya yang tak boleh terlalu lelah.
Acara open house malam itu berlangsung hingga pukul 21.30 wita, sebelumnya pada hari itu juga Rita memulai Open House mulai pagi pukul 09.30 (usai shalat ied) dan siang pukul 14.00.
Sementara itu, tepat di hari ketiga lebaran, Gubernur Kaltim Dr H Awang Faroek Ishak dan istri menyempatkan bersilaturrahmi dengan mantan Bupati Kutai Kartanegara H Syaukani HR di kediaman Bupati Kukar Tenggarong. Syaukani sudah bebas, namun kondisi kesehatannya masih belum pulih. Untuk itu Gubernur memberi semangat agar tabah menjalani hidup ini dan meminta segera mungkin agar pihak keluarga membawa Syaukani berobat ke luar negeri.
Setelah saling bermaaf-maafan, Syaukani dan Awang Faroek Ishak sempat menyanyikan lagu Balada Pelaut hingga membuat suasana lebih akrab dan ceria. Sehari sebelumnya, Bupati Kukar bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah juga menyempatkan bersilahturahmi dengan Gubernur Kaltim di Lamin Etam.***